BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pemikiran-pemikiran
tentang pendidikan telah dimulai sejak zaman Yunani Kuno, yakni ketika
munculnya para filosof seperti Aristoteles, Socrates, Decrates, Plato dan
lainnya. Filosof-filosof ini telah menyusun berbagai filsafat yang secara
prinsip membahas persoalan ontologi (hakikatt realitas), epistemologi
(pengetahuan), dan aksiologi (nilai). Hasil pemikiran mereka ini memberikan
kontribusi yang signifikan terhadap perkembangan pemikiran pendidikan hingga
dewasa ini.
Di Indonesia muncul
tokoh karismatik yang teguh pendirian dan visioner dalam persoalan pendidikan,
yakni Ki Hajar Dewantara. Banyak hal yang dapat digali dari satu tokoh ini
terutama tentang pendidikan.
B.
Rumusan Masalah
1.
Seperti apa Biografi Ki Hajar Dewantara?
2.
Bagaimana Pemikiran pendidikan Ki Hajar Dewantara?
C.
Tujuan
1.
Mengetahui Biografi Ki Hajar Dewantara
2.
Mengetahui pemikiran-pemikiran pendidikan Ki Hajar Dewantar
BAB II
PEMBAHASAN
- Biografi Ki Hajar Dewantara
Suwardi Surya
Ningrat atau yang lebih dikenal dengan Ki Hajar Dewantara lahir pada tanggal 2
Mei 1889 di Yogyakarta. Ia berasal dari lingkungan keluarga kraton Yogyakarta.
Beliau adalah aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan
pelopor pendidikan bagi kaum pribumi indonesia dari zaman penjajahan Belanda.
Ia adalah pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberi
kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan
seperti halnya priyayi maupun orang-orang Belanda. Pernah ia dibuang ke negeri
Belanda oleh pemerintah Belanda dari tanggal 6 September 1913 sampai dengan 5
September 1919, karena kritik pedasnya pada pemerintah Hindia Belanda saat itu.
Karena pengabdian dan prestasinya yang besar dalam bidang pendidikan, Beliau
menjadi menteri pendidikan Indonesia yang pertama pada tahun 1956 di era
pemerintahan Soekarno. Beliau wafat pada tanggal 26 April 1956 dan dimakamkan
dengan pemakaman negara secara militer serta diangkat menjadi Perwira Tinggi
oleh pemerintah. Beliau kini dikenang sebagai Bapak Pendidikan bangsa
Indonesia. Dan Pemerintah Republik Indonesia kemudian menetapkan hari lahirnya,
tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional.
- Pemikiran Pendidikan Ki Hajar Dewantara
1.
Prinsip Dasar Pendidikan Ki Hajar Dewantara
Menurut Ki Hajar Dewantara,
mendidik dalam arti yang sesungguhnya adalah memanusiakan manusia (humanisasi)
yakni pengangkatan manusia ke taraf insani. Pendidikan adalah membawa
manusia Indonesia keluar dari kebodohan.
Tujuan pendidikan adalah “penguasaan diri” sebab disinilah pendidikan yang
memanusiakan manusia. Ketika setiap peserta didik mampu menguasai dirinya,
mereka akan mampu juga menentukan sikapnya. Dengan demikian akan tumbuh sikap
yang mandiri dan dewasa.
Dalam konsep
pendidikan Ki Hajar Dewantara ada 2 hal yang harus dibedakan yaitu sistem
“Pengajaran” dan “Pendidikan” yang harus bersinergis satu sama lain. Pengajaran
bersifat memerdekakan manusia dari aspek hidup lahiriah (kemiskinan dan
kebodohan). Sedangkan pendidikan lebih memerdekakan manusia dari hidup batin
(otonomi berpikir dan mengambil keputusan, martabat, mentalitas demokratik)
2.
Taman Siswa
Setelah pulang dari
pengasingan, bersama rekan-rekan seperjuangannya, Ki Hajar Dewantara mendirikan
sebuah perguruan yang bercorak nasional, yaitu National Onderwijs Institut
Tamansiswa (Perguruan Tinggi Tamansiswa) pada tanggal 3 Juli 1922. Perguruan
ini sangat menekankan pendidikan rasa kebangsaan kepada tanah air dan berjuang
untuk memperoleh kemerdekaan.
Sedangkan maksud
pendirian Taman Siswa adalah membangun budayanya sendiri, jalan hidup sendiri
dengan mengembangkan rasa merdeka dalam hati setiap orang melalui media
pendidikan yang berlandaskan aspek-aspek nasional. Landasan filosofisnya
adalahnasonalistik dan universalistik. Nasionalistik maksudnya adalah budaya nasional,
bangsa yang merdeka dan independen baik secara politis, ekonomi, maupun
spiritual. Universal artinya berdasar hukum alam (natural law), segala
sesuatu merupakan perwujudan dari kehendak Tuhan. Prinsip dasarnya adalah
kemerdekaan, merdeka dari segala hambatan cinta, kebahagiaan, keadilan, dan
kedamaian tumbuh dalam diri (hati) manusia.
Teori Trikon
Pendidikan menurut
Ki Hajar Dewantara merupakan proses pembudayaan yakni suatu usaha memberikan
nilai-nilai luhur kepada generasi baru dalam masyarakat yang tidak hanya
bersifat pemeliharaan tetapi juga dengan maksud memajukan serta
memperkembangkan kebudayaan menuju kearah keluhuran budaya manusia. Upaya
kebudayaan (pendidikan) dapat ditempuh dengan sikap (laku) yang dikenal dengan
teori Trikon, yaitu
a)
Kontinuitas yang berarti bahwa
garis hidup kita sekarang harus merupakan lanjutan dari kehidupan kita zaman
lampau berikut penguasaan unsur tiruan dari kehidupan dan kebudayaan bangsa
lain.
b)
Konvergensi, yaitu berarti
kita harus menghindari hidup menyendiri, terisolasi dan mampu menuju kearah
pertemuan antar bangsa dann komunikasi antar negara menuju kemakmuran bersama
atas dasar saling menghormati, persamaan hak, dan kemerdekaan masing-masing.
c)
Konsentris, yang berarti
setelah kita bersatu dan berkomunikasi dengan bangsa-bangsa lain di dunia, kita
jangan kehilangan kepribadian sendiri. Bangsa Indonesia adalah masyarakat
merdeka yang memiliki adat istiadatt dan kepribadian sendiri. Meskipun kita
bertitik pusat satu, namun dalam lingkaran yang konsentris itu kita masih tetap
memiliki lingkaran sendiri yang khas yang membedakan Negara kita dengan Negara
lain.
Tri Sentra
Pendidikan
Pelaksanaan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara dapat
berlangsung dalam berbagai tempat yang oleh beliau diberinama Tri Sentra
Pendidikan, yakni:
1. Alam Keluarga
2. Alam Perguruan
3.
Alam Pergerakan Pemuda
3.
Konsep Dasar Pengajaran Ki Hajar Dewantara
a. Sistem Among
Yaitu metode pengajaran dan pendidikan yang berdasarkan
pada asih, asah, dan asuh. Yang dimaksud dengan manusia merdeka adalah
seseorang yang mampu berkembang secara utuh dan selaras dari segala aspek
kemanusiaannya dan yang mampu menghargai dan menghormati kemanusiaan setiap
orang. Olehh karena itu bagi Ki Hajar Dewantara pepatah ini sangat tepat yaitu
“educate the head, the heart, and the hand”
Pendidikan sistem among bersendikan pada dua hal yaitu: kodrat
alam sebagai syarat untuk menghidupkan dan mencapai kemajuan dengan
secepat-cepatnya dan kemerdekaan sebagai syarat untuk menghidupkan dan
menggerakan kekuatan lahir dan batinanak hingga dapat hidup mandiri. Sistem
among sering dikaitkan dengan asas yang berbunyi : Tut Wuri Handayani,
Ing madya mangun karsa, ing ngarso sung tuladha. Asas ini telah banyak
dikenal oleh masyarakat dari pada sistem
among sendiri, karena banyak dari anggota masyarakat yang belum memahaminya.
Sistem among berasal dari bahasa jawa yaitu mong atau momong, yang
artinya mengasuh anak. Para guru atau dosen disebut pamong yang bertugas
untuk mendidik dan mengajar anak sepanjang waktu dengan kasih sayang.
Dalam sikap momong, Among dan Ngemong, terkandung
nilai yang sangat mendasar, yaitu pendidikan tidak memaksa namun bukan berarti
membiarkan anak berkembang bebas tanpa arah. Metode Among mempunyai
pengertian menjaga, membina dan mendidik anak dengan kasih sayang.
b.
Tri Sakti Jiwa
salah satu konsep budaya Ki Hajar Dewantara dikenal
dengan ‘Konsep Tri Sakti Jiwa” yang terdiri dari cipta, rasa, dan karsa.
Maksudnya untuk melaksanakan sesuatu maka harus aa kombinasi yang sinergis
antara hasil olah pikir, hasil olah rasa, serta motivasi yang kuat di dalam
dirinya. Kalau untuk melaksanakan segala sesuatu itu hanya mengendalikan salah
satu diantaranya saja kemungkinan tidak akan berhasil.
Dalam dunia pendidikan modern saat ini, meskipun berbeda
secara substansi, konsep trisakti jiwa bisa diselaraskan dengan upaya
memfasilitasi seluruh potensi anak didik dalam perkembangan belajarnya yang
meliputi: aspek kognitif (pengetahuan/ pemahaman), aspek afektif
(sikap/ minat) dan sikap psikomotorik (keterampilan).
4.
Ajaran-ajaran Karakter dan Budaya Ki Hajar Dewantara
a.
Trihayu
Selain itu, konsep pengembangan budaya Ki Hajar Dewantar
dikenal dengan “ Konsep Trihayu” yang terdiri dari mamayu hayuning sarira,
mamayu hayuning bangsa, dan mamayu hayuning bawana. Maksudnya apapun yang
diperbuat oleh seseorang itu hendaknya dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri,
bangsa, dan bermanfaat bagi manusia di dunia pada umumnya. Kalau perbuatan
perbuatan seseorang hanya menguntungkan dirinya saja maka akan terjadi sesuatu
yang sangat individualistik.
b.
Trilogi Kepemimpinan
Dan yang menjadi semboyan pendidikan sampai saat ini
adalah “Konsep Trilogi Kepemimpinan” yang terdiri dari Ing Ngarsa Sung
Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani. Maaksudnya, ketika
berada di depan harus mampu menjadi teladan, ketika berada di tengah-tengah
harus mampu membangun semangat, dan ketika berada di belakang harus mampu
mendorong orang-orang daan pihak-pihak yang dipimpinnya.
c.
Tripantang
Konsepsi Kebudayaaan Ki Hajar Dewantara yang sangat
moralis tertuang dalam “Konsep Tripantang” yang terdiri dari pantang harta,
praja, dan wanita. Maksudnya kita dilarang menggunakan harta orang lain secara
tidak benar (misal korupsi), dan bermain wanita (misal menyeleweng). Ketiga
pantangan ini hendaknya tidak dilanggar.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
·
Ki Hajar Dewantara lahir pada tanggal 2 Mei 1889 di Yogyakarta. Ia berasal
dari lingkungan keluarga kraton Yogyakarta. Beliau adalah aktivis pergerakan
kemerdekaan Indonesia. Beliau menjadi menteri pendidikan Indonesia yang pertama
pada tahun 1956 di era pemerintahan Soekarno. Beliau wafat pada tanggal 26
April 1956.
·
Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara merupakan proses pembudayaan yakni
suatu usaha memberikan nilai-nilai luhur kepada generasi baru dalam masyarakat
yang tidak hanya bersifat pemeliharaan tetapi juga dengan maksud memajukan
serta memperkembangkan kebudayaan menuju kearah keluhuran budaya manusia. Upaya
kebudayaan (pendidikan) dapat ditempuh dengan sikap (laku) yang dikenal dengan
teori Trikon, yaitu: Kontinuitas, Konvergensi, dan Konsentris. Dan pelaksanaan
pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara dapat berlangsung dalam berbagai tempat
yang oleh beliau diberinama Tri Sentra Pendidikan, yakni: Alam Keluarga, Alam
Perguruan, dan Alam Pergerakan Pemuda
Tidak ada komentar:
Posting Komentar