Sabtu, 10 Januari 2015


BAB I
PENDAHULUAN

A.   Latar Belakang
Pemikiran-pemikiran tentang pendidikan telah dimulai sejak zaman Yunani Kuno, yakni ketika munculnya para filosof seperti Aristoteles, Socrates, Decrates, Plato dan lainnya. Filosof-filosof ini telah menyusun berbagai filsafat yang secara prinsip membahas persoalan ontologi (hakikatt realitas), epistemologi (pengetahuan), dan aksiologi (nilai). Hasil pemikiran mereka ini memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perkembangan pemikiran pendidikan hingga dewasa ini.
Di Indonesia muncul tokoh karismatik yang teguh pendirian dan visioner dalam persoalan pendidikan, yakni Ki Hajar Dewantara. Banyak hal yang dapat digali dari satu tokoh ini terutama tentang pendidikan.

B.   Rumusan Masalah
1.      Seperti apa Biografi Ki Hajar Dewantara?
2.      Bagaimana Pemikiran pendidikan Ki Hajar Dewantara?

C.   Tujuan
1.      Mengetahui Biografi Ki Hajar Dewantara
2.      Mengetahui pemikiran-pemikiran pendidikan Ki Hajar Dewantar


BAB II
PEMBAHASAN

  1. Biografi Ki Hajar Dewantara
Suwardi Surya Ningrat atau yang lebih dikenal dengan Ki Hajar Dewantara lahir pada tanggal 2 Mei 1889 di Yogyakarta. Ia berasal dari lingkungan keluarga kraton Yogyakarta. Beliau adalah aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi indonesia dari zaman penjajahan Belanda. Ia adalah pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberi kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya priyayi maupun orang-orang Belanda. Pernah ia dibuang ke negeri Belanda oleh pemerintah Belanda dari tanggal 6 September 1913 sampai dengan 5 September 1919, karena kritik pedasnya pada pemerintah Hindia Belanda saat itu. Karena pengabdian dan prestasinya yang besar dalam bidang pendidikan, Beliau menjadi menteri pendidikan Indonesia yang pertama pada tahun 1956 di era pemerintahan Soekarno. Beliau wafat pada tanggal 26 April 1956 dan dimakamkan dengan pemakaman negara secara militer serta diangkat menjadi Perwira Tinggi oleh pemerintah. Beliau kini dikenang sebagai Bapak Pendidikan bangsa Indonesia. Dan Pemerintah Republik Indonesia kemudian menetapkan hari lahirnya, tanggal 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional.

  1. Pemikiran Pendidikan Ki Hajar Dewantara
1.      Prinsip Dasar Pendidikan Ki Hajar Dewantara
Menurut Ki Hajar Dewantara, mendidik dalam arti yang sesungguhnya adalah memanusiakan manusia (humanisasi) yakni pengangkatan manusia ke taraf insani. Pendidikan adalah membawa manusia  Indonesia keluar dari kebodohan. Tujuan pendidikan adalah “penguasaan diri” sebab disinilah pendidikan yang memanusiakan manusia. Ketika setiap peserta didik mampu menguasai dirinya, mereka akan mampu juga menentukan sikapnya. Dengan demikian akan tumbuh sikap yang mandiri dan dewasa.
Dalam konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara ada 2 hal yang harus dibedakan yaitu sistem “Pengajaran” dan “Pendidikan” yang harus bersinergis satu sama lain. Pengajaran bersifat memerdekakan manusia dari aspek hidup lahiriah (kemiskinan dan kebodohan). Sedangkan pendidikan lebih memerdekakan manusia dari hidup batin (otonomi berpikir dan mengambil keputusan, martabat, mentalitas demokratik)
2.      Taman Siswa
Setelah pulang dari pengasingan, bersama rekan-rekan seperjuangannya, Ki Hajar Dewantara mendirikan sebuah perguruan yang bercorak nasional, yaitu National Onderwijs Institut Tamansiswa (Perguruan Tinggi Tamansiswa) pada tanggal 3 Juli 1922. Perguruan ini sangat menekankan pendidikan rasa kebangsaan kepada tanah air dan berjuang untuk memperoleh kemerdekaan.
Sedangkan maksud pendirian Taman Siswa adalah membangun budayanya sendiri, jalan hidup sendiri dengan mengembangkan rasa merdeka dalam hati setiap orang melalui media pendidikan yang berlandaskan aspek-aspek nasional. Landasan filosofisnya adalahnasonalistik dan universalistik. Nasionalistik maksudnya adalah budaya nasional, bangsa yang merdeka dan independen baik secara politis, ekonomi, maupun spiritual. Universal artinya berdasar hukum alam (natural law), segala sesuatu merupakan perwujudan dari kehendak Tuhan. Prinsip dasarnya adalah kemerdekaan, merdeka dari segala hambatan cinta, kebahagiaan, keadilan, dan kedamaian tumbuh dalam diri (hati) manusia.
Teori Trikon
Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara merupakan proses pembudayaan yakni suatu usaha memberikan nilai-nilai luhur kepada generasi baru dalam masyarakat yang tidak hanya bersifat pemeliharaan tetapi juga dengan maksud memajukan serta memperkembangkan kebudayaan menuju kearah keluhuran budaya manusia. Upaya kebudayaan (pendidikan) dapat ditempuh dengan sikap (laku) yang dikenal dengan teori Trikon, yaitu
a)      Kontinuitas yang berarti bahwa garis hidup kita sekarang harus merupakan lanjutan dari kehidupan kita zaman lampau berikut penguasaan unsur tiruan dari kehidupan dan kebudayaan bangsa lain.
b)      Konvergensi, yaitu berarti kita harus menghindari hidup menyendiri, terisolasi dan mampu menuju kearah pertemuan antar bangsa dann komunikasi antar negara menuju kemakmuran bersama atas dasar saling menghormati, persamaan hak, dan kemerdekaan masing-masing.
c)      Konsentris, yang berarti setelah kita bersatu dan berkomunikasi dengan bangsa-bangsa lain di dunia, kita jangan kehilangan kepribadian sendiri. Bangsa Indonesia adalah masyarakat merdeka yang memiliki adat istiadatt dan kepribadian sendiri. Meskipun kita bertitik pusat satu, namun dalam lingkaran yang konsentris itu kita masih tetap memiliki lingkaran sendiri yang khas yang membedakan Negara kita dengan Negara lain.
Tri Sentra Pendidikan
Pelaksanaan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara dapat berlangsung dalam berbagai tempat yang oleh beliau diberinama Tri Sentra Pendidikan, yakni:
1.      Alam Keluarga
2.      Alam Perguruan
3.      Alam Pergerakan Pemuda
3.      Konsep Dasar Pengajaran Ki Hajar Dewantara
a.       Sistem Among
Yaitu metode pengajaran dan pendidikan yang berdasarkan pada asih, asah, dan asuh. Yang dimaksud dengan manusia merdeka adalah seseorang yang mampu berkembang secara utuh dan selaras dari segala aspek kemanusiaannya dan yang mampu menghargai dan menghormati kemanusiaan setiap orang. Olehh karena itu bagi Ki Hajar Dewantara pepatah ini sangat tepat yaitu “educate the head, the heart, and the hand”
Pendidikan sistem among bersendikan pada dua hal yaitu: kodrat alam sebagai syarat untuk menghidupkan dan mencapai kemajuan dengan secepat-cepatnya dan kemerdekaan sebagai syarat untuk menghidupkan dan menggerakan kekuatan lahir dan batinanak hingga dapat hidup mandiri. Sistem among sering dikaitkan dengan asas yang berbunyi : Tut Wuri Handayani, Ing madya mangun karsa, ing ngarso sung tuladha. Asas ini telah banyak dikenal oleh masyarakat dari pada  sistem among sendiri, karena banyak dari anggota masyarakat yang belum memahaminya. Sistem among berasal dari bahasa jawa yaitu mong atau momong, yang artinya mengasuh anak. Para guru atau dosen disebut pamong yang bertugas untuk mendidik dan mengajar anak sepanjang waktu dengan kasih sayang.
Dalam sikap momong, Among dan Ngemong, terkandung nilai yang sangat mendasar, yaitu pendidikan tidak memaksa namun bukan berarti membiarkan anak berkembang bebas tanpa arah. Metode Among mempunyai pengertian menjaga, membina dan mendidik anak dengan kasih sayang.
b.      Tri Sakti Jiwa
salah satu konsep budaya Ki Hajar Dewantara dikenal dengan ‘Konsep Tri Sakti Jiwa” yang terdiri dari cipta, rasa, dan karsa. Maksudnya untuk melaksanakan sesuatu maka harus aa kombinasi yang sinergis antara hasil olah pikir, hasil olah rasa, serta motivasi yang kuat di dalam dirinya. Kalau untuk melaksanakan segala sesuatu itu hanya mengendalikan salah satu diantaranya saja kemungkinan tidak akan berhasil.
Dalam dunia pendidikan modern saat ini, meskipun berbeda secara substansi, konsep trisakti jiwa bisa diselaraskan dengan upaya memfasilitasi seluruh potensi anak didik dalam perkembangan belajarnya yang meliputi: aspek kognitif (pengetahuan/ pemahaman), aspek afektif (sikap/ minat) dan sikap psikomotorik (keterampilan).
4.      Ajaran-ajaran Karakter dan Budaya Ki Hajar Dewantara
a.       Trihayu
Selain itu, konsep pengembangan budaya Ki Hajar Dewantar dikenal dengan “ Konsep Trihayu” yang terdiri dari mamayu hayuning sarira, mamayu hayuning bangsa, dan mamayu hayuning bawana. Maksudnya apapun yang diperbuat oleh seseorang itu hendaknya dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri, bangsa, dan bermanfaat bagi manusia di dunia pada umumnya. Kalau perbuatan perbuatan seseorang hanya menguntungkan dirinya saja maka akan terjadi sesuatu yang sangat individualistik.
b.      Trilogi Kepemimpinan
Dan yang menjadi semboyan pendidikan sampai saat ini adalah “Konsep Trilogi Kepemimpinan” yang terdiri dari Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani. Maaksudnya, ketika berada di depan harus mampu menjadi teladan, ketika berada di tengah-tengah harus mampu membangun semangat, dan ketika berada di belakang harus mampu mendorong orang-orang daan pihak-pihak yang dipimpinnya.
c.       Tripantang
Konsepsi Kebudayaaan Ki Hajar Dewantara yang sangat moralis tertuang dalam “Konsep Tripantang” yang terdiri dari pantang harta, praja, dan wanita. Maksudnya kita dilarang menggunakan harta orang lain secara tidak benar (misal korupsi), dan bermain wanita (misal menyeleweng). Ketiga pantangan ini hendaknya tidak dilanggar.
BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
·         Ki Hajar Dewantara lahir pada tanggal 2 Mei 1889 di Yogyakarta. Ia berasal dari lingkungan keluarga kraton Yogyakarta. Beliau adalah aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia. Beliau menjadi menteri pendidikan Indonesia yang pertama pada tahun 1956 di era pemerintahan Soekarno. Beliau wafat pada tanggal 26 April 1956.
·         Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara merupakan proses pembudayaan yakni suatu usaha memberikan nilai-nilai luhur kepada generasi baru dalam masyarakat yang tidak hanya bersifat pemeliharaan tetapi juga dengan maksud memajukan serta memperkembangkan kebudayaan menuju kearah keluhuran budaya manusia. Upaya kebudayaan (pendidikan) dapat ditempuh dengan sikap (laku) yang dikenal dengan teori Trikon, yaitu: Kontinuitas, Konvergensi, dan Konsentris. Dan pelaksanaan pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara dapat berlangsung dalam berbagai tempat yang oleh beliau diberinama Tri Sentra Pendidikan, yakni: Alam Keluarga, Alam Perguruan, dan Alam Pergerakan Pemuda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar